Permainan Cinta Di Kamar Mandi


Halo kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran). Seorang pria berusia 37 tahun, menikah, dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun kami tidak hidup berlimpah materi.
Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman wanita. Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku).
Bedanya waktu di SMA dahulu, aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti seks dan wanita, karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus pada masalah akademisku.
Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag bagian pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di otakku. Apalagi aku juga hobi menonton film-film biru.
Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya. Dia adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin hubungan gelap setahun setelah aku menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami tidak sampai melakukan hal-hal yang menjurus kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur sudah. Padahal aku sudah berniat menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, karena di tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang teman yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.
Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang. Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang. Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti yang dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang panas-panasnya isu politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja cukup kuat bertahan badai akibat krismon, hingga aku tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu terus memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang atlet bodybuilding baru yang cukup berprestasi di kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional. Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka ”kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard baru” suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.
Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku agar tetap bugar dan prima, aku tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali seminggu aku pergi ke tempat fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun tidak sebagus ketika aku menjadi atlet bodybuilding dadakan.
Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan. Tapi karena saat itu aku sedang asyik menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka menggodaku adalah Mia. Dia adalah puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi pikiranku saat aku menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.
Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku bangun pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku mulai berganti pakaian. Aku akan melakukan olahraga pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging keliling kompleks perumahanku. Dengan cuek aku memakai baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang seperti dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan keindahan tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran. Dia seperti layangan yang diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.
Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku, membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal aku sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu aku baru sadar, aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa aku balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun saat aku bangun, tidak terdengar komentar istriku karena dia sedang terlelap tidur setelah semalaman dia menemani anakku bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah dapur untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun ketika aku berjogging tadi.
Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit terbuka, hingga aku bisa melihat bagian belakang tubuh molek mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi dan molek, karena dia sangat rajin merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda usia 30-an.
Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai tegak sempurna ini, kuperhatikan terus aktivitas mandi mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau ruginya, aku pun memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk dia dari belakang, sembari tanganku menggerayang liar di tubuh mulusnya. Meraba mulai dari leher sampai kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya langsung tersenyum nakal.
”Panji, nakal kamu” katanya sambil balas memelukku. Dia berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas tubuh masing-masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku hingga aku sudah bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang, besar, dan gagah.
Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jika batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu dia berbisik mesra,
”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama” katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat. Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu. Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
”Lho, bu, aku khan belum keluar?” suaraku parau, penuh birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk” katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?” suaraku masih saja parau, karena birahi.
”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa” sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku disuruhnya telentang di ranjang, sementara dia mengelap sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit kembali. Kali ini aku bertekad akan membuat mertuaku keluar sampai tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di pagi ini akan ketahuan istriku, tapi persetanlah…que sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.
Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah membengkak karena rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari, kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. ”Aaaaahhhh…. panji sayang ….” jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang tersisa.
Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku. Tanpa memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi dia dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya program jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku mempermainkan buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan mulut dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat, kugigit, sampai payudara itu kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu, sementara tangan satunya masih mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu dia meminta istirahat. Aku sebenarnya malas mengabulkan permintaannya itu, karena aku sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak. Namun akhirnya aku mengalah.
”Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup membuat ibu keluar sampai empat kali” puji ibu mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu masih saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” aku berkata yang sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.
Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali mempermainkan batangku yang sudah mengerut ukurannya.
Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi kutenangkan dia sambil berkata, ”Sebentar bu, aku akan mengecek keadaan dulu”. Aku memang khawatir, aku takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.
Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh ibumu” lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, aku dan ibu mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal. Sesudahnya aku balik ke kamar istriku, setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku kembali.
Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku yang molek dan menggairahkan.
Baca Selengkapnya →Permainan Cinta Di Kamar Mandi

Angkara Dosa 5

Dia bersetuju untuk bagi free jika kak Dewi boleh beri lubang bontotnya untuk memuaskan nafsunya. Kak Dewi hanya tersenyum dan semakin menonggekkan punggungnya. Menyedari perubahan positif pada kak Dewi, india tersebut terus mengeluarkan batangnya dari lubang berahi kak Dewi dan beralih pula kepada lubang laknat kak Dewi. kelihatan batang lelaki india tersebut sedikit demu sedikit tenggelam di dalam lubang bontot kak Dewi hingga bulu lelaki india yang berserabut itu bertemu rapat dengan lurah punggung kak Dewi. Melentik tubuh kak Dewi menerima tusukan batang lelaki india itu di duburnya. Wajahnya kelihatan menerima kenikmatan, bukan kesakitan. Terus sahaja lelaki india itu memacu bontot kak Dewi, dari mulanya yang perlahan sehinggalah selaju yang munasabah untuk lubang yang sedap dan masih ketat itu.
Lelaki india itu berkali-kali meramas punggung kak Dewi, malah kadangkala dia memeluk tubuh kak Dewi dan meramas tetek kak dewi yang terlindung di seballik kembannya. memang dia betul-betul kerjakan tubuh kak Dewi. Mana taknya, bukan senang nak merasa tubuh melayu. Entah apa rezeki atau balanya hari itu dapat main dengan perempuan melayu yang cantik, putih melepak dan gebu. Malah dalam keadaan yang sungguh seksi, hanya berkemban tanpa sebarang pakaian dalam, melacurkan tubuhnya supaya halaman rumahnya di turap sepenuhnya.
Tidak lama selepas itu, lelaki india itu mula mengerang kuat. Serentak dengan itu, dia menghentak batangnya lebih dalam di lubang bontot kak Dewi. Sementara kak Dewi melentikkan punggungnya seolah memberikan lagi ruang agar batang lelaki india itu masuk lebih dalam. menggigil lelaki india itu memerah benihnya memenuhi lubang jubor kak Dewi. Mengerang panjang lelaki india itu, menikmati saat-saat kenikmatan membedal bontot seorang perempuan kampung melayu yang seksi menggoda.
Setelah semuanya selesai, lelaki india itu secara senyap-senyap memberikan kak Dewi not Rm50 sebagai saguhati. Bertuah betul kak Dewi hari itu. Bukan sahaja dapat turap halaman rumah free, malah dapat duit saguhati.
Sebelum mereka sedar akan kehadiran ku, lebih baik aku cabut. Aku keluar melalui pintu belakang. Selipar yang ku tanggalkan di hadapan rumah Kak Dewi ku tinggalkan. Aku balik berkaki ayam melalui jalan pintas yang lain. Hati aku berkecamuk. Antara geram dan berahi.
Beberapa hari selepas itu, aku kembali ke rumah kak Dewi, ketika suaminya pergi kerja dan anak-anaknya bersekolah. Yang tinggal hanya kak Dewi dan 2 orang anaknya yang masih kecil. Baru sampai di halaman rumahnya, aku sudah terdengar suara kak Dewi mengerang di dalam rumah. Aku jengok di ruang tamu. Kelihatan anak kecilnya sedang terbaring dengan puting di mulutnya, terkebil-kebil memandang abangnya yang sedang bermain sendirian. Aku syak kak Dewi mesti berada di dapur atau di biliknya. Perlahan-lahan aku masuk. Aku cari punca suara itu. hinggalah aku tiba di dapur. Kelihatan kak Dewi sedang menyangkung di atas riba seorang lelaki india. Aku kenal lelaki india itu. Itulah lelaki india yang tempohari datang menyetubuhi kak Dewi sebagai bayaran menurap halaman rumah Kak Dewi. Lelaki india itu duduk di atas kerusi meja makan memerhatikan kak Dewi yang sedang dipeluk kepalanya oleh seorang lelaki india. Kelihatan lelaki india yang seorang lagi itu menyumbat batangnya ke dalam mulut kak Dewi sedalam-dalamnya dengan muka yang penuh kenikmatan dan tubuhnya yang mengejang. Nampaknya aku datang ketika mereka sedang berseronok dan khayal bersetubuh. Dua lawan satu nampaknya. itulah kalipertama aku menontonnya secara langsung. lebih-lebih lagi aku datang ketika lelaki yang menyumbat mulut kak Dewi itu sedang memancutkan air maninya di dalam mulut kak Dewi. Kak Dewi langsung tiada rasa seperti kegelian. Tekaknya bergerak-gerak menandakan dia sedang meneguk lendiran mani yang sedang dilepaskan oleh zakar india yang tidakbersunat itu.
Lelaki india yang berada di bawah kak Dewi nampaknya tidak tahan dengan adegan batang rakannya yang sedang memancut di dalam mulut seorang perempuan melayu berstatus isteri orang dan emak ibu kepada 5 orang anak. Dia semakin ghairah hinggalah, dia meramas tetek kak Dewi dengan rakus dan seterusnya memeluk tubuh kak Dewi yang telanjang bulat sekuat hatinya. Bersungguh-sungguh nampaknya dia melepaskan air maninya di dalam tubuh perempuan kampung itu. Kak Dewi pula, setelah melepaskan batang lelaki india yang sudah habis melepaskan benihnya di dalam mulutnya, kak Dewi terus memeluk lelaki india yang sedang klimaks itu danmenekan tubuhnya agar semakinke bawah, menekan agar seluruh batang lelaki india itu memancutkan benihnya sedalam-dalamnya.
Aku berasa sungguh geram walau pun keberahian menyaksikan persetubuhan kecurangan kak Dewi itu. Segera aku tinggalkan kak Dewi dansejak hari itu aku langsung tidak bertemu lagi dengannya.
Sehinggalah selepas tamat pengajian ku, akukembali ke Malaysia. Setibanya aku di kampung, ibu bapa ku memberitahu bahawa kak Dewi sedang sakit teruk. Dengar katanya dia mengidap HIV positif. Ketika kak Dewi sedang sakit, Pak Kasim jiran sebelah rumahnya telah meninggal dunia gara-gara penyakit yang sama. Secara tidaklangsung perlakuan sumbang mereka akhirnya terbongkar. Aku pasti, semuanya adalah berpunca dari salah seorang dari lelaki yang pernah menyetubuhi kak Dewi mengidap penyakit ini. Aku rasa aku boleh syak, kemungkinan besar ianya datang dari india pekerja kontraktor itu. Nak dikata pak Kasim, tidakmungkin kerana aku kenal benar dengan pak Kasim, dia bukan jenis yang sosial. Setakat kerja kampung. Tak tahulah kalau dia pun 2 kali 5 sosial kat luar. Apa yang aku kesiankan adalah kepada abang Latif. tidak pasal-pasal dia pun kena sekali angkara dosa-dosa isterinya. Namun aku betul-betul respek abang latif, walau pun dia mendapat penyakit yang sama gara-gara kak Dewi, walau pun dia tahu isterinya curang, namun dia tetap menjaga isterinya. Aku serta merta timbul rasa keinisafan yang amat mendalam. Sesungguhnya zina itu adalah amat keji dan dosanya terlalu besar. Itu adalah contoh salah satu seksaan yang begitu berat di dunia, apatah lagi di akhirat kelak. Aku bersyukur kerana bebas dari penyakit itu, kerana aku berzina dengan kak Dewi sebelum dia mendapat penyakit itu.
Sesalan bagi kak Dewi sudah terlambat, segalanya sudah tersurat. Aku yang masih hidup ini seharusnya bersyukur kerana tuhan masih memberikanku peluang untuk bertaubat nasuha dan menjauhkan diri dari perlakuan yang keji itu. Aku benar-benar bertaubat. Aku benar-benar insaf.
Baca Selengkapnya →Angkara Dosa 5

Anak Tipah

Pada satu malam musim durian rahat aku hendak ke-bilik air tanpa di-duga aku melihat ibuku keluar dari rumah. Aku memerhatikan dari celah lubang kemana dia hendak pergi.
Aku melihat dia menuju ke-pondok di-hujung kebun. Aku mencari akal. Kerana telah biasa dengan kaedaan kebun dan lorong-lorong-nya aku memberanikan diri dan dengan perlahan aku menuju ke-pondok tersebut setelah pasti yang ibu ku telah berada di-dalam.

“Bang ingat janji kita ini kali terakhir tahu” aku mendengar suara ibu ku. Tak semena-mena tubuh ku mengiggil dan jadi tak tentu arah. Aku mematikan diri dan cuba mempastikan dengan siapa ibu ku bercakap.

“Ia-lah saya tahu” aku mendengar suara seorang lelaki.

“Dah-lah apalagi buka-lah baju” lelaki tersebut bersuara dan terus bersuara, “Kerana yang terakhir Tipah mesti layan saya puas-puas.

Ibuku tidak menjawab. Aku mencari lubang yang dapat memberikan aku satu pandangan yang jelas dan berjaya. Dari samar-samar cahaya pelita minyak tanah aku dapat melihat ibuku sedang baring terlentang dengan lelaki yang aku tak pasti siapa sedang menyonyot tetek ibu dengan tangan-nya bermain-main di-celah kelengkang ibuku.

Lelaki tersebut bangun mencangkung di-atas dada ibuku dengan menyuakan kote-nya untuk di-hisap oleh ibuku. Melihatkan itu badan ku berpeluh. Selepas itu lelaki tersebut bangun dan menyembamkan muka-nya di-celah kelengkang ibu.

“Banyak-nya air” lelaki tersebut bersuara.

“Dah-lah tu masukkan-lah cepat, Tipah dah tak tahan ni” ibuku bersuara.

Lelaki tersebut bangun sambil membetulkan sesuatu di-celah kelengkang-nya dan tarsus menyiarap di-atas tubuh ibuku. Tidak lama selepas itu aku melihat lekaki tersebut mengerakkan ponggong-nya ke-atas ke-bawah. Ibu ku juga mengikut aksi lelaki yang di-atas-nya dengan mengerak-kan ponggong-nya juga ke-atas ke-bawah.

“Laju sikit Tipah dah hendak sampai ni” ibuku bersuara dengan lelaki yang berada di-atas tubuh ibu ku melakukan pergerakan ponggong-nya.

Setelah agak lama lelaki tersebut mengerakkan ponggong-nya dia bersuara,

“Kemut kuat sikit Tipah saya hendak pancut” dan terus tiarap di-atas tubuh ibuku.

Semasa memerhatikan itu semua nonok ku menjadi aktif dan habis basah seluar dalam ku. Aku perhatikan lelaki tersebut bangun dan baring di-sebelah ibuku.

Melihatkan yang ibuku hendak bangun, lelaki tersebut menarik tangan-nya seraya berkata,

“Nanti-lah Tipah, kita main sekali lagi”

Ibuku tidak menjawab dan terus baring semula. Takut di-ketahui oleh ibu dan lelaki yang masih terlentang dengan ibuku meramas-ramas kote-nya aku pulang ke-rumah semula.

Aku cuba melelapkan mata tapi tak berjaya. Macam-macam gambaran menjelma di-dalam kepala ku berhubung dengan perbuatan ibuku. Setelah agak lama aku dengar pintu dapur di-buka. Dengan memberanikan diri aku bangun menujuke-dapur. Melihatkan aku datang ibu bersuara, “Hai belum tidur lagi”.

“Tak ada hendak ke-bilik air” balas ku.

“Emak datang dari mana?” aku bertanya.

“Pergi suluh durian” balas ibu ku.

“Kalau ia pun takkan lama sanggat emak di-pondok” aku bersuara dan terus berlalu tanpa menoleh ke-arah ibuku dan aku pula tidak berhajatkan apa-apa jawapan.

Pagi esok-nya aku lihat ibu selamba saja seolah-olah tidak ada apa-apa yang berlaku malam-nya. Adik ku yang bungsu sudah siap dan ibuku menghantar-nya ke-sekolah. Aku tinggal di-rumah kerana memunggu keputusan peperiksaan S.P.M.

“Lili, jaga rumah ia emak lambat sikit kerana ada hal” Ibuku bersuara sebelum pergi.

Peristewa malam tadi masih segar di-dalam ingatan, dek kerana itu aku merasa malas untuk mengemas rumah. Entah mengapa aku merasa hendak melihat bilik ibu yang jarang aku masuku.

Aku tak tahu mengapa semasa di-dalam bilik ibu aku membuka almari dan laci di-dalam-nya. Entah apa yang aku cari aku sendiri pun tak tahu. Aku terperanjat dengan penemuanku---- VCD blue----. Aku belek satu persatu dan akhir-nya aku memasang sekeping. Aku bersandar di-kerusi malas yang sedia ada sambil menonton. Tubuh badanku jadi satu macam. Aku buka seluar dalam ku. Dengan mengunakan jari sendiri aku menjolok-jolok lubang nonokku.

Kini setiap kali bila ibu tiada aku pasti akan menonton. Satu hari ibu pergi rewang di-rumah kenalan-nya yang hendak mengawinkan anak. “Ini peluang baik” bisik hati kecilku. Kerana hari itu tak sekolah aku mengajak adik bungsuku menonton sama.

Adikku duduk di-atas katil ibu semasa aku sedang memasang VCD blue. Belum pun beberapa minit adikku sudah menanggalkan pakaian-nya setelah melihat aku sendiri membuka pakaian. Aku menyuruh adikku meramasa-ramas tetekku dengan aku mengusap-usap konek-nya.

Aku baring terkangkang dengan menyuruh adikku menjilat nonokku mengikut aksi yang kami sedang tontoni. Aku menyuruh adikku memasukkan konek-nya di-dalam lubang nonokku kerana aku sudah tak dapat bertahan lagi. Adik ku akur. Aku belum berapa bersedia dia telah terkencing. Aku menjadi bengang dan mengentel-gentel semula koneknya.

Setelah puas mengentel baru keras semula. Kali ini adikku dapat bertahan hingga kami terkencing bersama. Aku puas dan mengajak adik ku melakukan perkara yang sama bila ada peluang.

Pagi minggu berikut-nya semasa ibu ke-pasar minggu aku mengajak adikku ke-bilik ibu.

Entah bila kami pun tak tahu dan masa itu kami belum terkencing lagi ibu sudah berada di-tepi katil. Adikku mencabut konek-nya seraya berkata, “Bukan saya emak, Lili yang ajak” dan terus lari keluar.

Ibu menghampiri semasa aku hendak mengenakan pakaian

“Memgapa engkau membuat kerja yang tak senonoh ni, siapa suruh kau masuk bilik mak”

Aku diam membisu mendengarkan leteran ibuku yang seolah-olah tidak mahu berhenti

Setelah puas berleter ibuku menangis sambil mengumpul semua VCD yang ada.

“Sebenar-nya emak bukan suka sanggat dengan benda ini, emak simpan kerana amah arwah ayah kau”

Melihatkan yang ibu masih lagi berleter aku bersuara,

“Salahkah saya buat begitu mak, yang mak pergi ke-pondok dulu tu boleh hingga mak sanggup mengangkang dua kali buat seorang lelaki” aku bersuara..

Ibu terus tunduk dan membawa ke-semua VCD untuk di-bakar.

Setelah kaedaan reda ibu menyanyaku berapa kali aku main dengan adik ku dan adakah adikku memancut di-dalam lubang nonokku.

“Baru dua kali dan dia hanya sempat memancut sekali saja.” Kata ku.

Aku lihatkan yang ibu agak resah takut aku hamil. Beberapa bulan melihatkan yang aku tak hamil ibu merasa lega dan aku dan adikku tidak di-benarkan tinggal di-rumah berdua-duaan. Kalau ibu keluar salah seorang mesti ikut.

Setelah keputusan peperiksaan di-umumkan, aku gaggal untuk menyambung pelajaran. Aku hanya tinggal di-rumah buat membantu ibu berkebun. Abangku yang sulung akan melangsungkan perkhawinan-nya tak lama lagi dan ibu bercadang hendak mengadakan majlis menyambut menantu bila sampai masa-nya.

Pada hari perkhawinan abangku kami ke-Ipoh sebelum mengadakan kenduri yang serupa di-kampong. Semasa di-Ipoh aku berkenalan dengan seorang kakak yang kata-nya aktif dalam satu pertubuhan siasah dan sedang mencari gadis-gadis untuk menjadi ahli-nya. Aku di-tawarkan untuk menjadi ahli. Aku berjanji akan memikirkan-nya dulu. Melihatkan yang dia mudah mesra aku menjemput-nya datang ke-kampong untuk menghadiri majlis “MEMYAMBUT MENANTU” nanti.

Pada hari yang telah di-tetapkan ramai kenalan ibu termasuk ke-semua anak tiri-nya kerkunjung. Gadis yang aku katakana itu pun hadir sama. Dia agak gembira bila aku katakana yang aku bersetuju dengan tawaran-nya dulu. Aku di-suruh mencari seberapa ramai gadis yang boleh kalau aku hendak dapat kerja.

Setelah misiku berjaya dan dengan persdetujuan ibu aku di-tawarkan kerja di-K.L. Lama baru aku dapat mensesuaikan diri di-tempat baru. Lama-kelamaan aku tergoda dengan kemewahan hidup kota. Aku perhatikan ramai gadis-gadis yang menjadi ahli puteri hidup mewah. Aku cuba meresik kejayaan mereka.

“Ah tentang itu Lili jangan risau-lah, semua-nya di-tanggong beres kalau Lili mahu” gadis yang aku kenal di-Ipoh dulu bersuara.

Setelah pasti yang aku bersedia, satu malam aku di-bawa ke-sebuah club exclusif dan di-perkenalkan kepada seorang yang bergelar. Melihatkan yang aku sudah mesra gadis kenalanku yang bernama Tini meninggalkan kami.

“Tini tak apa nanti saya hantar Lili pulang” orang yang bergelar bersuara semasa Tini hendak pergi.

Lama juga kami berborak dan akhir-nya entah bila aku dapati yang diri ku berada di-apartment mewah dalam kaedaan telanjang bulat berbaring di-katil.

“Maafkan saya, saya terpaksa bawa Lili ke-sini kerana malam tadi Lili mabuk” orang yang bergelar bersuara sambil menghampiri dengan hanya bertowel. Aku menarik gebar untuk menutup tubuhku.

“Lili ni cantik-lah” orang yang bergelar bersuara sambil mengusap-usap dahiku.

Aku hanya senyum.

Melihatkan kaedaanku yang sedemikian Dato’ (orang yang bergelar) semakin berani dengan memasukkan tangan-nya ke-dalam gebar sambil mengentel-gentel putting tetekku. Aku sudah mula terangsang. Aku melihak konek dato’ bergerak-gerak di-dalam towelnya.

Permainan tangan Dato’ semakin menganas dengan meramas-ramas manja nonokku pula.

Akhir-nya gebar yang menutup tubuhku tercampak di-tepi katil. Aku mengusap-usap konek Dato yang sudah keras macam batu kerana di-suruh. Habis seluruh tubuh ku di-gumul oleh mulut Dato’, terutama tetekku yang belum beraba matang.

Dato’ melipat kakiku seraya memenamkan koneknya yang akhir-nya masuk santak ke-pangkal.

“Malam tadi dato’ buat Lili macam ni ke” aku bersuara semasa Dato’ hendak memulakan aksi sorong-tariknya.

“Buat tu buat tapi mana syok main dengan orang yang sedang tidur” balas Dato’ dan terus menghenjut.

“Dato’ oh ah ah sedap-nya, laju sikit tok” aku bersuara sambil nonokku mengemut konek Dato yang akhir-nya melepaskan satu ledakan yang menyegarkan nonokku.

Selang beberapa hari semasa aku hendak mengemas barang-barang berpindah ke-apartment Dato’ aku berjumpa dengan Lili dan aku ucapkan terima kasih kerana mempertemukan aku dengan Dato’dan menyuruh aku memberikan layanan yang sepenuhnya kepada Dato’

Kini baru aku mengetahui bagaimana kebanyakan puteri-puteri dapat hidup mewah dan bergaya. Ada sugar daddy. Aku di-janjikan dengan pelbagai kemewahan kalau aku sedia mengikuti kemahuan Dato’.Aku seolah-olah sudah menjadi personel secretary kepada Dato’. Setiap kali bila dia pergi meeting di-luar dan melawat kawasan aku ada-lah salah seorang pengiring. Pakaian ku tak usah cakap semua-nya latest fashion. Kereta yang di-janjikan sudah di-beli bila aku sudah lulus lesen memandu.

Satu hari Dato’ ada appointment dengan ketua masyarakat di-kampungku. Setelah upacara selesai aku meminta kebenaran dengan Dato’ untuk menziarah ibuku.

“Suruh driver hantarkan dan jangan lupa balik semula, takkan Dato’ hendak tidur seorang” kata Dato’.

Dengan menaiki kereta resmi Dato’ aku menziarah ibuku.

“Betulke engkau ini Lili?” ibuku bertanya setelah aku keluar dari kereta.

Aku memeluk tubuh ibu sambil mencium pipi-nya dan bersuara,

“Hai takkan emak tak kenal, ini Lili anak mak”.

Lama juga kami berborak.

“Sebenar-nya engkau kerja apa, setahu emak, engkau bukan berkelulusan tinggi” kata ibuku dengan kehairanan.

“Itu-lah mak tak percaya kepada rezeki, bukan saya dah kata yang saya ini berkerja sebagai seorang secretary kepada seorang Dato’ dengan pertolongan Tini” balas ku.

Hampir maghrib aku minta izin untuk pulang, konon-nya malam nanti Dato’ ada meeting.

“Konek Dato’ yang ada meeting dengan nonokku” aku ketawa di-dalam hati.

“Ya ALLAH, adakah dosaku terhadap kedua ibu bapaku dulu kini di-warisi oleh anakku” aku mendengar ibuku mengeluh kecil semasa aku hendak masuk kereta.

Aku di-fahamkan dek kerana kesempitan hidup yang di-tanggung oleh abangku yang sulung, ibu menyuruh dia empat beranak pulang ke-kampong saja, kerana ibu pun sudah uzur dan tinggal ke-seorangan. Kini abang longku mencari nafkah dengan mengerjakan kebun. Abang ngahku masih berkerja di-Ipoh, yang nombol tiga sedang berada di-tahun empat di-salah sebuah universiti tempatan dengan mengambil krusus perubatan. Yang bungsu sedang belajar di-salah sebuah MRSM.

Aku masih lagi menjadi personel secretary kepada konek Dato’
Baca Selengkapnya →Anak Tipah

Meraih Kenikmatan Dunia Bersama Om Nakal


Oom Icar, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Sinta karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Oom Icar bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Sinta ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Oom Icar saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Sinta saat itu sedang digandeng dr.Budi.
Keduanya jelas-jelas bertemu di gang hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tidak kenal.
Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Sinta mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Oom Icar mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur. Masuk akal bagi Sinta karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Asmi, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.
Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Sinta takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Oom Icar juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena kadung sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Oom Icar yang coba merayu Sinta ternyata diterima baik oleh Sinta.
Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Oom Icar akan menjemput dan membawa Sinta ke hotel, Sinta meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Oom Icar tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Oom Icar, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini. Pasalnya Oom Icar yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Sinta didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya. Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Oom Icar dalam bercumbu. Sinta pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Oom tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Oom Icar menawarkan makan pada Sinta tapi ditolak karena masih merasa kenyang.
“Aku minta rokoknya Oom.. Sinta pengen ngerokok.” pinta Sinta sebagai alternatif tawaran Oom Icar.
“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Oom yang pasangin. Oom nggak tau kalo Sinta juga ngerokok.”
“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Oom ke sini.” jelas Sinta menunjukan kepolosannya.
“Kok sama, Oom juga sempat tegang waktu bawa Sinta di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”
Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Sinta mulai menggoda Oom Icar.
“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Oom?” godanya dengan genit.
“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Oom Icar setelah membakar sebatang rokok buat Sinta yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Oom Icar.
“Mana, katanya mau pasangin buat Sinta?”
“Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Oom musti cium dulu..”
Menutup kalimatnya Oom Icar langsung menyerobot bibir Sinta memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Sinta hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Oom Icar sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Oom Icar. Melihat ini Oom Icar semakin berlanjut.
“Bajunya basah keringetan nih, Oom bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Sinta.
Lagi-lagi Sinta tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Oom Icar bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Sinta memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Oom Icar menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Sinta menggelinjang manja.
“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Oom juga buka dulu bajunya?”
“Iya, iya, Oom juga buka baju Oom..”
Segera Oom Icar melucuti bajunya satu persatu sementara Sinta bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Sinta. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Oom Icar mengerti bahwa Sinta masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Sinta bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Sinta sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.
“Sinta kurus ya Oom?” tanya Sinta sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Oom Icar.
“Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin.” jawab Oom Icar memuji Sinta apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.
“Tapi Oom kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Sinta liat ceweknya montok banget..”
“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Sinta gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Oom Icar sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Sinta yang kebetulan terletak di bagian depan.
“Oom sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?”
“Justru karena yakin maka Oom berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Oom sampe berani ngajak Sinta padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Sinta, tentu Oom nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin.”
Sinta kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Oom Icar.
“Emangnya, Oom seneng sama Sinta sejak kapan? Kayaknya sih Sinta liat biasa-biasa aja?”
“Dari Sinta mulai dateng-dateng ke rumah Oom udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bicaranya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.
“Aaa.. gemes mau diapain Oom?!”
“Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Oom Icar dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Sinta.
“Terusnya apalagi?”
“Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya canda Oom Icar yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Sinta, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.
“Itu bilangnya.. memek.” jawab Sinta dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Oom Icar. Bahasanya vulgar tapi Oom Icar malah senang mendengarnya.
“Iya, kalau memek Sinta ini dimasukin Oom punya, boleh kan?”
“Dimasukin apa Oom..?”
“Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Oom Icar dengan mengambil sebelah tangan Sinta meletakkan di jendulan penisnya.
“Aaa.. ini kan bilangnya kontol.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Oom?” Sinta bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu.
“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Oom beliin pil pencegah hamilnya.”
“Tapinya sakit nggak?” tanya Sinta sambil mematikan rokoknya ke asbak.
“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Oom Icar mengajak tapi sambil membopong Sinta pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta. Di sini Sinta mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Sinta sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
“Ahahhggg.. gellii Oomm.. Sshh.. iihh.. Oom sakit gitu.. sssh.. hnggg..”
Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Oom makin menjadi-jadi. Oom Icar yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Sinta apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya. Sinta yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Oom Icar buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Sinta di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti anjing kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi. Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.
“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Oomm..” Oom Icar seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Sinta terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Oom betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Oom Icar merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.
Sewaktu partama dimasuki, Sinta masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Oom Icar agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Sinta lewat kata-kata tapi Oom Icar mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem. Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Sinta lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Sinta masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Oom Icar. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Oom Icar.
“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Sinta langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Oom Icar. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Oom Icar seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok. Disambut kehangatan begini Oom Icar tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Sinta meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Oom Icar, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Oom. Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Sinta menggeliat-geliat. Sementara itu si Oom yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya.
Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Sinta yang mulai duluan dengan memperketat belitannya. “Aduuhh.. ayyuhh.. Oomm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Oom.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya. Begitu nafas mulai tenang, Sinta memberi isyarat menolak tubuh Oom Icar meminta lepas, tapi sementara si Oom berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Oom Icar. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.
“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Sinta sambil menarik penis Oom Icar.
“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Oom Icar dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Sinta.
“Oom seneng ya sama aku?”
“Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Sinta diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Oom Icar.
Sinta langsung bersinar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain. Oom Icar jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di hotel di luar kota tapi sekali pernah Sinta mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Oom Icar sendiri.
Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Sinta datang bertandang siang itu untuk menemui Asmi. Kedua gadis itu memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya masih jauh, Asmi mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Oom Icar yang membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung memanfaatkannya, karena begitu Sinta masuk sudah disambut dengan telunjuk di bibir memaksudkan agar Sinta tidak bersuara. Sinta sempat heran tapi ketika digandeng ke kamar Oom Icar dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.
“Iddihh Oom nekat.. nanti ketauan Oom.. Asmi memangnya ke mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
“Sst tenang aja.. Kita aman, Asmi lagi pergi sebentar, Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Oom Icar. Hari adalah adik laki-laki Asmi yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Asmi bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di Malang.
“Iya tapi gimana kalo Asmi dateng Oom?”
“Kan nggak ada yang tau kalau Sinta udah di sini. Mereka nggak bakalan berani masuk kamar Oom. Acaramu kan Oom denger masih nanti malem, kita bikin sebentar di sini yaa?”
“Tapi Oom.?”
“Udahlah di sini aja dulu, Oom mau ke luar sebentar. Tuch denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Oom tebus waktumu untuk jajan-jajan sama Asmi nanti,” kata Oom Icar langsung memotong protes Sinta dengan mengulurkan sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Sinta. Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Sinta yang karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari. Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Oom Icar, hati Sinta menjadi lunak lagi karena si Oom memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.
“Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang buka pintu.”
Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara motor Asmi memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan terdengar menanyai adiknya.
“Har, barusan Mbak Sinta singgah ke sini nggak?”
“Nggak tau, aku juga baru bangun..”
“Oh ya? Padahal Mbak Asmi singgah barusan ke rumahnya, Mamahnya bilangnya ke sini?”
“Ya mungkin aja Sinta tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada, jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Oom Icar ikut menimbrung pembicaraan.
“Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
“Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke sini.” putus Oom Icar menghibur anaknya.
Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Oom Icar memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah itu dia pun masuk disambut Sinta yang bersembunyi di balik pintu langsung mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya. Oom Icar tersenyum dan menggayut pinggang Sinta, menggandengnya ke tempat tidur. Sinta menurut karena tahu kalau menolak maka Oom Icar akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Oom Icar untuk membuka bajunya, hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.
“Tapi nanti aku ke luar dari sininya gimana Oom..?” tanyanya sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang dilepas.
“Gampang, Oom pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli makanan, di situ Sinta bisa aman keluar dari sini.”
“Ngg.. Oom bisa aja akalnya..” Sinta sedikit lega.
“Oom kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Oom pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Oom Icar seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan mengambil tangan Sinta untuk diletakkan di batang penisnya yang masih menggantung lemas.
Sinta malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil memandangi benda itu.
“Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap manja-manja genit.
“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Sin.” jawab Oom Icar balas menjulurkan tangannya meremas selangkangan Sinta.
“Iddihh si Ooom.. pengennya yang itu aja?” Sinta pura-pura jual mahal.
“Abisnya barang enak, jelas kepengen Sin..” kata Oom Icar sambil mulai mengajak Sinta berciuman.
Sinta memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik tempat tidur dia seperti merasa berat.
“Nggak enak ah Oom, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..” katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat tidur keluarga itu. Oom Icar rupanya bisa mengerti perasaan Sinta, dia tidak memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang lain.
“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Oom yang atur, ya?” katanya sambil membawa Sinta ke arah kaki tempat tidur dan menyandarkan tubuh Sinta di palang-palang besi tempat tidur itu.
Oom Icar memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Sinta disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Oom Icar melingkar di sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Sinta. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Oom Icar mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing lengan Sinta pada besi melintang itu. Sinta menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Oom Icar. Berikutnya barulah Oom Icar mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Sinta dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal mengerjai kedua susu Sinta dengan remasan dan kecap mulutnya dan kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya, membuat Sinta yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Oom Icar mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu menyengat.
Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini, di teras depan Asmi terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Asmi, sahabat yang sedang ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Asmi sendiri.
“Ayyohh Oom.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Oom punnyaa..” bahkan rintih Sinta sudah meminta Oom Icar segera mulai bersenggama. Oom Icar tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah menegang menempel di celah vagina Sinta. Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Sinta agar menjadi lebih kencang lagi, baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Sinta menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya. Dia terpaksa menunggu Oom Icar bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu cinta Asmi yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Sinta yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Oom Icar.
“Ngghh.. Ooomm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Oomm.. ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.
Kalau tadi Sinta masih setengah hati untuk melayani nafsu Oom Icar, sekarang dia juga ikut merasa keenakan, karena bermain dalam variasi posisi berdiri ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan tubuhnya tetap berdiri karena bisa menggelantung dengan kedua lengannya, sambil menerima tambahan enak tangan Oom Icar yang meremas-remas kedua susunya, memilin-milin geli putingnya, dia juga bisa ikut mengimbangi sodokan penis ini dengan kocokan vaginanya. Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Oom Icar sudah serius tegang akan tiba dipuncaknya Sinta pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan. “Aduuhh.. Oomm.. ayoo.. sshh.. duh Sinta mau keluarr.. sssh.. hhgh.. Ooomm..” desah Sinta tertahan. “Aduhhssh.. Iya ayoo Sin.. Oom juga sama-samaa.. aahghh..” segera mengejang Sinta menyentak-nyentak ketika orgasme diikuti Oom Icar tiba di ejakulasinya. Permainan pun usai dengan kepuasan sebagaimana biasa yang didapati keduanya setiap mengakhiri jumpa cinta mereka.
Baca Selengkapnya →Meraih Kenikmatan Dunia Bersama Om Nakal

Ayah Dan Anak

Pada suatu hari, ayah yang akan berkahwin sebulan lagi setelah kematian ibuku lima tahun yang lalu menalifonku dan katanya ada hal penting yang perlu aku menolongnya. Aku ketika itu sedang duduk berehat menonton tv bersama anak-anakku merasa hairan di atas pertolongan yang diperlukan ayah. Ayah akan datang ke rumahku pada malam nanti untuk memberitahuku pertolongan apa yang diperlukannya.

Setelah meletakkan talifon, aku cuba memikirkan apa sebenarnya pertolongan yang ayah mahu aku menolongnya. Jika masalah kewangan, memang aku tidak dapat menolong ayah kerana aku dan suamiku tidak ada simpanan. Lagi pun takkan ayah mahu meminta bantuan kewangan dariku kerana ayah memang seorang yang berduit. Selama ini pun ayah yang selalu membantuku jika aku ada masalah kewangan. Rumah yang aku diami sekarang ini adalah hadiah dari ayah ketika aku berkahwin dahulu dan kereta yang suamiku guna sekarang ini pun pemberian dari ayah.

Tidak mungkin ayah mahu meminta pertolongan kewangan, mungkin ayah mahu aku menolongnya dalam persiapan perkahwinanya, fikirku.

Lebih kurang jam 9.00 malam, ayah pun sampai di rumahku dan ketika itu aku hanya tinggal bersama anak-anakku kerana suamiku bekerja shif malam. Suamiku hanya bekerja di sebuah kilang yang tidak jauh dari rumahku. Selepas bersalam dengan ayah, aku menjemput ayah masuk dan duduk di ruang tamu rumahku.

"Mana Rosdi, kerja malam ke? Budak-budak mana?" Tanya ayah sambil duduk di atas sofa di ruang tamu rumahku.

"Ya ayah... abang Rosdi kerja malam, budak-budak awal lagi sudah tidur," jawabku yang duduk di depan ayah.

"Bagus la... takde orang lagi bagus..." kata ayah yang aku lihat masih bergaya walaupun umurnya sudah 51 tahun.

"Ayah mahu Nita tolong apa?" Tanyaku kerana merasa hairan apabila mendengar kata-katanya.

"Jangan terkejut dan jangan marah jika ayah cakap... ini soal maruah ayah dan maruah Nita, tetapi ayah tiada jalan lain... ayah terpaksa juga minta pertolongan dari Nita kerana Nita seorang sahaja anak ayah," kata ayah panjang lebar.

Aku mula merasa tidak sedap hati dan perasaan ingin tahu semakin kuat.

"Pertolongan apa ni ayah?" Desakku.

"Ayah perlukan bantuan dari Nita... ayah harap Nita boleh membantu ayah kerana haya Nita seorang sahaja yang dapat menolong ayah dan bantuan ini agak berat... ayah harap sangat Nita boleh menbantu demi masa depan ayah."

Mendengar kata-kata ayah, aku mula merasa risau kerana aku tahu ayah mempunyai masalah besar.

"Bantuan apa ayah? Cakap la, jika boleh... Nita akan tolong ayah," Tanyaku bersungguh-sungguh.

"Nita boleh tolong jika Nita sanggup bekorban demi ayah..." Kata ayah lagi membuatkan aku tertanya-tanya apa sebenarnya masalah ayah.

"Jangan buat Nita risau... ayah cakap la, Nita sanggup menolong ayah..." Tanyaku lagi dengan berdebar-debar.

"Sebenarnya ayah tengah berubat, tapi bomoh tu tetapkan syarat susah sikit.... ayah harap Nita boleh tolong... mudah saja" Kata ayah.

"Ayah sakit ke? Ayah sakit apa?" Tanyaku cemas.

"Ayah tak sakit... ayah cuma... cuma..." Ayah tidak meneruskan kata-katanya.

"Cuma apa?" Tanyaku.

"Nita tahu kan, sebulan lagi ayah akan berkahwin... jadi ayah pergi berubat sebab benda ni dah lemah..." Ayah berkata sambil menunjukkan ke arah batangnya membuatkan aku terkedu dan merasa malu.

"Ka...kalu ayah dah tahu... ke.. kenapa ayah nak kahwin lagi?" Suaraku tergagap-gagap kerana merasa malu.

"Walaupun batang ayah dah lemah... tetapi ayah masih bernafsu... ayah teringin berkahwin lagi..." Jawab ayah dengan cepat membuatkan aku terperanjat apabila mendengar ayah bercakap begitu.

"Habis... apa Nita boleh buat?" Aku mula bertanya setelah diam seketika.

"Bomoh tu cakap batang ayah ni perlu di urutkan oleh anak perempuan ayah sendiri untuk pulih. Jika tak naik juga ayah perlu geselkan pada tubuh Nita dan jika tak keras juga ayah terpaksa bersetubuh dengan Nita... Nita boleh tolong ayah tak?" ayah menerangkan kepadaku sambil bertanyaku sama ada aku sanggup atau tidak.

Aku sebenarnya merasa sungguh terkejut dengan permintaan ayah dan merasa sungguh malu.

"Nita...Nita... tak ada cara lain ke ayah?" Tanyaku dengan perasaan malu dan aku tidak tahu untuk memberitahu ayah sebenarnya aku tidak sanggup tetapi aku takut ayah kecewa kerana hanya aku seorang sahaja anaknya dan hanya aku sahaja dapat menolongnya.

"Sudah banyak tempat ayah pergi berubat tetapi tidak pulih... tolong la Nita, demi masa depan ayah... bila dah kahwin nanti ayah tak mahu mengecewaka isteri ayah... Nita pun tahukan, makcik Samsiah tu janda... mesti banyak pengalaman, ayah takut ayah malu nanti... tolong la Nita... hanya Nita yang boleh menjaga maruah ayah sebagai seorang lelaki..." Ayah merayuku dengan suara yang sayu.

Aku merasa sungguh kasihan melihat ayah kesayanganku dalam keadaan begitu. Aku tahu ayah sudah banyak menolongku, tetapi sanggupkah aku menyerahkan tubuhku kepada ayah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, untuk menolak permintaan ayah aku tidak sanggup dan jika aku membantu ayah sanggupkah aku.

Aku menjadi keliru sama ada mahu menolong ayah atau tidak, jika di ikutkan hatiku memang aku tidak sanggup tetapi apabila mengenangkan nasib ayah yang sudah banyak menolongku, aku mula merasa tidak salah jika aku menolong ayah demi kebahagian ayah aku sendiri.

"Tak ada cara lain lagi ke ayah? Cara ini salah..." Tanyaku perlahan.

"Ayah pun sudah tidak tahu lagi di mana lagi ayah perlu berubat... tolong la ayah Nita... ayah merayu dan ayah perlu sangat pertolongan Nita... tolong la ayah..." Ayah merayu dengan suara kesedihan.

Aku tidak sanggup melihat ayah begitu lagi dan jika mahu dibandingkan, ayah sudah banyak bekorban dari apa yang di mintanya.

"Baik la... tetapi ini harus menjadi rahsia kita berdua..." Kataku perlahan dengan penuh perasaan malu kerana sebentar lagi ayah akan dapat melihat serta dapat menjamah tubuhku malah dapat dinikmatinya apa yang tersembunyi selama ini.

"Betul ke ni Nita?" Ayah bertanya dan terus menghampiriku lalu duduk di sebelahku.

Aku hanya menganggukkan kepalaku perlahan. Ayah terus membawa tanganku ke celah kangkangya, ke arah batangnya yang masih di dalam seluarnya. Aku tergamam seketika dan perlahan-lahan aku mula mencuba mengurut batang ayah sambil menunduk mukaku memandang ke arah bertentangan dengan ayah.

Ayah tanpa berkata-kata terus membuka seluarnya lalu dilurutkan ke paras pehanya bersama seluar dalamnya sekali. Aku yang tersentak itu tanpa sedar memandang ke arah batang ayah, batang ayah yang masih lembik itu sebenarnya memang besar dan agak panjang.

Ayah membawa kembali tanganku pada batang lembiknya, aku mula mengenggam batang ayah aku gosok-gosokkan dan lurutkan perlahan-lahan. Setelah hampir sepuluh minit diurutku, batang ayah masih longlai dan tidak juga mengeras.

"Nita... benarkan ayah menggeselkan batang ayah ke tubuh Nita... mungkin boleh naik..." Minta ayah.

Aku bagaikan dipukau, aku hanya mengikut sahaja kemahuan ayah dan ini juga mungkin kerana nafsuku sudah mula terangsang sedikit. Mana tidaknya, seumur hidup aku tidak pernah memegang batang orang lain selain dari batang suamiku.

Tanpa ku sedari, nafsuku dengan sedirinya terangsang namun aku masih dapat mengawalnya. Apabila melihat persetujuan dariku, ayah menarik tubuhku berdiri lalu ayah terus memeluk tubuhku dari belakang.

"Tak payah la buka..." Kataku apabila merasa tangan ayah yang berada di perutku mula meleraikan ikatan kain batikku.

"Kalau tak buka, macam mana ayah nak geselkan batang ayah ni pada tubuh Nita..." Jawab ayah sambil melepaskan kain batikku jatu ke lantai.

"Ayah... seluar tu..." Kata-kataku terhenti apabila seluar dalamku sudah di tarik turun sehingga ke kakiku lalu ayah memeluk kembali tubuhku dan terasalah batangnya yang terkulai itu di punggungku.

Aku tidak dapat mengelak lagi dan hanya membiarkan sahaja ayah menggeselkan batangnya di lurah punggungku tetapi batang ayah tidak juga mengeras.

Ayah membaringkan tubuhku meniarap di atas karpet dan ayah terus meniarap menindih belakangku. Tangannya memeluk tubuhku sambil meramas-ramas buah dadaku beberapa kali lalu menyingkap ke atas baju t-shirtku itu dan terus ditanggalkannya. Aku yang semakin kuat terangsang hanya membiarkan sahaja tubuhku di bogelkan ayah.

"Wahh... cantiknya tubuh Nita..." Puji ayah sambil meramas-ramas punggungku dan mula menggesel-geselkan batangnya di celah alur punggungku sambil tangannya meramas kedua buah dadaku.

Rasa geli dan kenikmatan membuatkan nafsuku terangsang kuat, puting buah dadaku mula mengeras dan cipapku juga mula terasa berair. Aku merasa batang ayah di celah alur punggungku mula mengeras sedikit dan geselan ayah semakin ke bawah, menyentuh bibir duburku serta menyentuh sedikit hujung bibir cipapku. Aku memejamkan mataku sambil menikmati geselan batang ayah dan tiba-tiba ayah menelentangkan tubuhku.

Ayah menanggalkan seluarnya serta bajunya dan aku dapat melihat batang ayah sungguh besar dan panjang walaupun masih belum mengeras sepenuhnya. Ayah yang sudah berbogel itu terus baring di sisiku lalu menghisap puting buah dadaku dan tangannya pula meramas-ramas punggungku.

Aku merasa semakin bernafsu, ayah menjilat-jilat perutku sambil meramas buah dadaku dan mula menindihi tubuhku. Aku dapat rasakan batang ayah mula menyentuh bibir cipapku yang sudah basah itu dan ayah cuba menekan batangnya untuk masuk ke dalam cipapku tetapi setelah beberapa kali mencuba, batang ayah masih tidak berjaya masuk.Ayah menekan lagi batangnya di libang cipapku dan ayah berjaya membenamkan separuh batangnnya ke dalam cipapku.

"Errrrrgggghhhh...." Aku mengerang kenikmatan sambil menggeliat dan terus memeluk tubuh ayah menikmati kemasukkan batang ayah yang separuh keras itu.

Walaupun batang ayah masih belum mengeras sepenuhnya, aku merasa cipapku penuh kerana batang ayah sungguh besar. Ayah menekan batangnya masuk lagi sehingga pangkal batangnya rapat terbenam di dalam cipapku.

"Arrrggghhh... ayahhhh..." Sekali lagi aku mengerang kerana merasa senak di dalam perutku disebabkan kepanjangan batang ayah namun aku merasa sungguh nikmat sehingga punggungku terangkat sedikit.

Aku mengemut-ngemut cipapku apabila merasa batang ayah yang terbenam di dalam cipapku mula mengembang menjadi bertambah besar. Batang ayah yang berada di dalam cipapku kini sudah berjaya mengeras sepenuhnya sehingga aku merasa cipapku ketat apabila ayah mula mengerakkan batangnya keluar masuk dengan perlahan.

"Ohhh... masih ketat cipap Nita ni walaupun sudah beranak tiga... urggghh..." Ayah mengerang menikmati cipapku.

"Ayah... laju lagi... laju lagi ayahhhh..." Aku meminta ayah melajukan lagi tujahan batangnya kerana aku merasa sungguh nikmat sambil mengemut-ngemutkan cipapku sekuat hati.

Ayah melajukan tujahan batangnya dan semakin lama makin laju. Ayah menarik punggungku ke atas membuatkan batang panjangnya menusuk lebih jauh ke dalam cipapku.

"Aarrrrggghhhh.... ayahhhh..." Tiba-tiba tubuhku mengejang dan aku mengerang panjang kerana mencapai puncak klimaksku. Aku mengemut kuat cipapku dan tujahan batang ayah semakin laju serta semakin dalam.

"Aahhh... ooohh.... ahhhhhh..." Ayah mengerang sambil memancutkan air maninya ke dalam cipapku dengan agak banyak sehingga membanjiri rongga cipapku.

Tubuh ayah rebah di atas tubuhku yang lemah kerana kepuasan, walaupun ayah sudah tua tetapi ayah masih hebat di dalam persetubuhan.

"Terima kasih Nita... terima kasih kerana mengubati ayah..." Ayah bangun lalu mengambil pakaiannya lalu di pakainya kembali.

"Untuk ayah tersayang... Nita sanggup demi kebahagiaan ayah..." Kataku sambil tersenyum, aku juga turut bangun dan memakai kemballi pakaiaanku.

"Baik hati sungguh anak ayah ni..." Puji ayah sambil memelukku lalu mencium pipi serta dahiku, aku membalas dengan memeluk erat tubuhnya.

Malam itu tubuhku menjadi sebagai habuan untuk mengubati ayah, namun begitu aku juga dapat merasa kepuasan dari batang besar serta batang panjang ayah.

Dua minggu sebelum ayah melangsungkan perkahwinannya, malam itu ayah datang lagi ke rumahku dan pada malam itu juga suamiku bekerja malam.

"Ada apa lagi ayah..." Tanyaku setelah ayah duduk di sofa ruang tamu rumahku.

"Ayah nak minta tolong lagi kerana batang ayah masih belum pulih sepenuhnya..." Jawab ayah sekali lagi mengejutkan aku kerana ayah mahu mengulangi lagi persetubuhan malam itu.

Aku sebenarnya masih teringin untuk merasa lagi batang besar ayah. Sejak persetubuhan malam itu, aku asyik teringatkan batang besar dan batang panjang milik ayah. Apabila aku bersetubuh dengan suamiku, kenikmatan yang aku alami ketika bersetubuh dengan ayah tidak aku rasai.

"Takkan ayah nak lagi? Nita tak sanggup buat lagi..." Kataku untuk tidak menunjukkan aku memang mahu bersetubuh lagi dengan ayah, aku berpura-pura mengelakkan.

"Boleh la Nita... hari perkahwinan ayah sudah hampir... tolong la..." Ayah merayu-rayu padaku dan aku hanya terdiam, ayah tetap merayu sambil memujukku.

"Ayah mahu minum, Nita ke dapur sekejap... nak buatkan air..." Kataku sambil bangun dan terus menuju ke dapur untuk membuat minuman.

"Ayah mahu minum air ni..." Apabila aku sampai di dapur, tiba-tiba ayah memelukku dari belakang.

Aku berpura-pura untuk melepaskan diri dari pelukan ayah tetapi tidak berjaya kerana tubuhku dipeluk kemas oleh ayah.

"Boleh la Nita... tolong la ayah... bagi la tubuh Nita pada ayah malam ni..." Ayah memujukku kerana ayah ingin bersetubuh denganku.

Pelukkan ayah membuat tubuhku menjadi hangat dan aku mengeliat kerana nafsuku mula terangsang. Tangan ayah mula merayap ke buah dadaku lalu diramas-ramasnya perlahan dan aku merasa nafsuku semaki kuat melanda diriku.

"Ayah…. janganla… Nita tak mahu..."

Ayah membuat tidak dengar dengan laranganku, buah dadaku terus diramasnya lembut. Tubuhku mula memberi tidak balas dari rangsangan ayah, buah dadaku mula tegang dan nafasku terasa sesak. Tangan ayah di buah dada kini turun ke perutku lalu diusap-usapnya dengan perlahan-lahan.

Tangan ayah turun lagi hingga ke celah kangkangku dan telapak tangan ayah mencekup cipapku yang tembam itu. Cipapku ditekan-tekan membuatkan aku menonggekkan sedikit punggungku dan aku dapat rasakan batang ayah yang sudah mengeras itu di lurah punggungku.

Ayah menyelak baju kelawarku ke atas keparas pinggangku, punggungku terdedah kerana aku memang tidak memakai seluar dalam. Ayah terus mengusap serta meramas-ramas punggungku membuatkan punggungku terangkat sedikit menahan kesedapan.

Tangan ayah beralih pula ke cipapku, alur cipapku digosok-gosok ayah dan aku mengangkangkan sedikit kakiku lalu jari terus mengentel kelentitku.

"Ayah…. uhhh... uhhh… emmpphhh" Rintihku kenikmatan apabila kelentitku digentel jari ayah sehingga alur cipapku mula berair.

Ayah mengentel serta mengusap cipapku agak lama sehingga cipapku betul-betul berair, ayah mula memegang pinggangku dan batang kerasnya yang entahh bila sudah di keluarkan dari seluarnya itu sedang menekan lurah punggungku.

Aku tahu yang ayah mahu memasukkan batangnya ke dalam lubang cipapku, aku membongkokkan tubuhku dengan bertahankan tangan di birai meja makan. Ayah meletakkan sebelah kakiku di atas kerusi dan dengan satu tekanan, batang ayah berjaya masuk ke dalam cipapku sedikit demi sedikit.

"Uuhhhh... ayahhhh..." Aku mengerang sambil menikmati kemasukkan batang besar ayah ke dalam cipapku.

"Nita….ketatnya..." Bisik ayah setelah hampir keseluruhan batangnya terbenam di dalam cipapku sehingga aku merasa senak di dalam perutku.

Ayah membiarkan batangnya terbenam di dalam cipapku seketika, aku merasa batng ayah berdenyut-denyut di dalam cipapku. Ayah memegang pinggangku lalu menarik batangnya keluar sedikit dan dimasukkan kembali dengan perlahan-lahan membuat aku merasa sedap yang amat sangat.

Setelah masuk hampir keseluruhan batangnya, ayah mula mengerakkan batangnya keluar masuk di dalam cipapku dengan cepat. Setelah agak lama cipapku ditujah oleh batang ayah, aku mula merasa hendak klimaks. Tubuhku mula bergetar dan terus menjadi kejang lalu aku mencapai puncak klimaksku yang sungguh nikmat. Aku tercungap-cungap kepenatan, ayah mencabut batangnya yang masih keras keluar dari cipapku dan memeluk tubuhku dengan erat dari belakang.

Ayah membaringkanku di atas lantai dan kedua kakiku dibukanya luas, ayah menolak kedua belah kakiku ke atas sehingga lututku tersentuh dengan buah dadaku. Sambil tersenyum ayah menekan batangnya masuk ke dalam cipapku yang sudah banyak berair itu.

Sekali lagi cipapku menjadi sasaran batang ayah dan kali ini rasanya lebih sedap kerana kelentitku bergesel-gesel dengan bulu-bulu kasar batang ayah. Dengan kedudukanku begitu, seluruh kepanjangan batang ayah dapat meneroka jauh ke dalam cipapku.

"Uhhhh... ayah, sedapnya..." Aku merengek dan ayah semakin laju menujah cipapku sehingga aku merasa lagi tanda-tanda untukku mencapai klimaks.

Tujahan batang ayah semakin laju menandakan ayah juga mahu sampai kepuncak klimaksnya. Ayah semakin laju menujah cipapku, menghempap punggungku sehingga tubuhku tergoncang-goncang. Ini membuatkan aku semakin hampir untuk mencapai puncak klimaksku. Aku memeluk tubuh ayah dengan erat, ayah juga memeluk tubuhku dan dengan satu tujahan yang agak kuat, terpancutlah air mani ayah menembak-nembak rahimku.

Pada masa yang sama, aku juga mencapai puncak klimaksku buat kali yang kedua. Setelah agak lama menindihi tubuhku, ayah bangun dan mengenakan pakaiannya kembali. Aku juga bangun lalu membetulkan baju kelawar yang terselak ke atas itu.

"Terima kasih Nita..." Ayah mencium pipiku dan meramas punggungku lalu menuju ke ruang tamu rumahku. Aku membuat ayah air dan duduk berborak sambil menonton tv, ayah tidak habis memuji kecantikkan tubuhku serta kesedapan kemutan cipapku.

Pujian ayah membuatkan aku merasa sungguh bangga dan nafsuku terangsang lagi kerana ayah yang berada di sebelahku selalu menggosok-gosok pehaku.\

"Ayah nak balik ke malam ni...?" Tanyaku dan menganggukkan kepalanya.

"Kenapa?" Tanya ayah.

"Tidur sini la… subuh esok ayah baru balik, sebelum abang Rosdi pulang dari kerja..." Mintaku sambi tersenyum, aku sebenarnya mahu merasa lagi batang besar dan panjang milik ayah itu.

"Boleh juga... dapat la Nita mengubati ayah lagi..." Ayah berkata sambil memeluk pinggangku dan aku terus bangun lalu memimpinan tangan ayah menuju ke bilik tidurku.

Sebaik saja berada di dalam bilik tidurku, ayah terus merangkul tubuhku dan merebahkanku ke atas katil. Ayah mencium serta menjilat betisku sehingga ke pangkal pehaku. Perbuatan ayah membuat aku merasa geli dan kegelian itu menyerap ke cipapku. Punggungku terangkat-angkat apabila pangkal pehaku dijilat lidah ayah dan ayah menolak baju kelawarku ke atas. Coliku juga ditolaknya ke atas lalu buah dadaku diramas-ramas ayah perlahan membuat aku mengeliat kesedapan.

Aku mengeliat sambil mengeluh dan merintih kecil apabila puting dan buah dadaku dinyonyot ayah dengan rakus. Aku merasa sungguh terangsang lalu aku menolak tubuh ayah rebah di atas katilku. Baju dan seluar serta seluar dalam ayah ditanggakkanku dengan cepat. Ayah hanya membiarkan sahaja, batangnya yang separuh tegang itu dipegangku lalu aku urut-urutkan dari pangkal hingga ke kepala batangnya.

Tindakanku itu membuatkan batang ayah menjadi tegang dan keras serta berdenyut-denyut lalu aku mengucup kepala batang ayah beberapa kali.

"Batang ayah ni dah pulih ke belum?" Tanyaku sambil tersenyum.

"Sudah hapir pulih... pandai Nita ubatkan..." Jawam ayah sambil mengusap kepalaku.

"Ayah nak Nita ubatkan lagi...?" Tanyaku lagi dan ayah hanya menganggukkan kepalanya.

Aku duduk mengangkang di atas tubuh ayah sehingga cipapku hampir dengan kepala batang ayah. Aku duduk perlahan-lahan lalu kepala batang ayah menguak bibir cipapku dan sedikit demi sedikit batang ayah terbenam di dalam cipapku.

"Urrrggghhhh..." Aku mengerang kenikmatan kerana seluruh batang ayah terbenam di dalam cipapku setelah aku melabuhkan punggungku rapat di celah kangkang ayah.

Batang ayah terasa tercucuk di dalam perutku, aku mengemutkan cipapku beberapa kali lau mula mengangkat naik dan turun punggungku. Ayah menikmati kesedapan batangnya keluar masuk di dalam cipapku sambil meramas-ramas buah dadaku yang tergantung itu.

Kesedapan yang aku rasai membuatkan aku semakin laju mengerakkan punggungku turun naik. Habis seluruh batang ayah terbenam rapat ke dalam cipapku dan setelah agak lama, aku merasa batang ayah berdenyut-denyut. Aku juga turut merasa ada tanda-tanda untuk aku mencapai klimaks. Tubuhku mula mengejang dan aku tekankan punggungku rapat di celah kangkang ayah membuatkan batang ayah jauh terbenam di dalam cipapku.

"Urrggghhh... arrrggghhhh..." Serentak dengan itu, aku mula mencapai puncak klimaksku dan ada cairan kenikmatan yang keluar dari cipapku membasahi peha ayah.

Ayah membaringkan aku yang masih tercungap-cungap itu lalu menindihi tubuhku dan memasukkan batangnya di dalam cipapku. Ayah mengerakkan punggungnya ke depan dan ke belakang membuatkan batangnya keluar masuk di dalam cipapku. Ayah menujah cipapku dengan laju dan agak ganas sehingga tubuhku bergegar-gegar di hempap ayah.

"Emmm…uuhhh... Nita…ayah nak pancut ni..." Kata ayah sambil mendengus-dengus.

Aku membantu dengan mengemut kuat cipapku agar dinding cipapku lebih rapat menghimpit batang ayah. Beberapa ketika kemudian, ayah mula memancutkan air maninya yang hanggat di dalam cipapku. Malam itu sebanyak tiga kali aku bersetubuh dengan ayah sehingga tubuhku lemah longlai.

Setelah hari hampir subuh, barulah ayah pulang dan aku terus tertidur kepenatan dengan penuh kepuasan. Begitulah pengalamanku untuk mengubati batang ayah dan sehingga kini aku masih bersetubuh dengan ayah. Apabila aku merasa terangsang menginginkan batang panjang dan besar milik ayah, aku akan meminta ayah memuaskan nafsuku.

Batang ayah kini sudah pulih sepenuhnya malah lebih bertenaga kerana diubati dengan cipapku. Sekarang cipapku pula yang perlu diubati dengan batang ayah kerana aku tidak merasa puas lagi jika bersetubuh dengan suamiku. Hanya batang besar serta batang panjang ayah sahaja yang dapat memuaskan nafsuku.
Baca Selengkapnya →Ayah Dan Anak